Feeds:
Posts
Comments

Peaks and Valleys(Menjadikan Masa Susah & Masa Senang Menjadi Bermanfaat)

Oleh : Spencer Johnson, M.D.

Penulis Buku Best Seller “Who Moved My Cheese

Cetakan Pertama Tahun 2009

Harga : Rp. 55.000,- (Koleksi Pribadi)

Dalam hidup ini seringkali kita mengalami periode naik dan turun. Kadang hidup kita berada di atas & terkadang kita berada di bawah. Dalam bentuk penyajian, hampir sama dengan metode yang digunakan penulis dalam menjelaskan pentingnya suatu perubahan pada buku Who Moved My Cheese, isi buku ini juga disajikan dalam bentuk cerita yang mudah diikuti. Dalam buku ini dibahas pendekatan baru yang dapat mengubah cara kita memandang kesusahan & kesenangan yang kita alami. Yang dimaksud dengan Puncak & Lembah dalam buku ini adalah perasaan senang & susah yang kita rasakan di tempat kerja & dalam kehidupan kita. Puncak & Lembah adalah juga soal bagaimana perasaan kita dalam menanggapi kejadian-kejadian di luar diri kita. Apa yang kita rasakan, sangat tergantung dari bagaimana kita memandang situasi yang kita alami. Kuncinya adalah memisahkan antara peristiwa apa yang menimpa diri kita & apa yang kita rasakan sebagai seorang individu. Puncak & Lembah saling berkaitan. Kesalahan yang kita lakukan pada masa senang saat ini, akan menciptakan masa sulit di kemudian hari. Kebijaksanaan yang kita jalankan pada masa susah saat ini akan menciptakan masa senang di kemudian hari. Pada saat kita mengalami masa susah, berkonsentrasilah pada hal-hal yang terpenting dalam hidup kita. Rahasianya adalah kita senantiasa benar-benar menghargai & menikmati setiap saat sebagaimana adanya pada waktu mengalaminya. Puncak adalah masa ketika kita menghargai apa yang kita miliki. Lembah adalah masa ketika kita merindukan apa yang telah terlepas dari kita.

Ada 3 prinsip utama dalam Pendekatan Puncak & Lembah :

1. Bagaimana keluar dari lembah lebih awal Untuk mengubah Lembah menjadi Puncak, kita perlu mengubah salah satu dari 2 hal. Apakah kita mengubah apa yang sedang terjadi / sesuatu yang menimpa kita atau mengubah perasaan kita terhadap peristiwa itu. Jika kita bisa mengubah apa yang sedang terjadi, itu bagus, jika tidak, kita harus mengubah perasaan kita. Kita harus yakin & tetap berpikir positif bahwa kejadian kurang menyenangkan yang menimpa kita saat ini, akan membawa kita ke tempat lain yang jauh lebih baik. Kita dapat mengubah Lembah kita menjadi Puncak ketika kita menemukan & menggunakan hal-hal positif yang tersembunyi di masa-masa susah itu. Tenangkan diri kita. Sadarilah bahwa sebuah Lembah ada ujungnya. Lakukan hal berlawanan dengan apa yang menyebabkan kita berada di Lembah. Diantara Puncak-Puncak selalu ada Lembah. Bagaimana kita mengelola Lembah kita menentukan seberapa cepat kita akan mencapai Puncak kita berikutnya. Masa senang maupun masa susah dalam hidup kita merupakan anugerah, & masing-masing sangat berharga, kalau kita dapat mengelolanya dengan baik. Kita bisa mengurangi masa susah kita kalau kita menghargai & mengelola masa senang kita secara bijaksana. Jika kita dapat menyingkirkan ego kita, kemungkinan kita bisa lebih cepat meninggalkan Lembah. Kita juga dapat mengubah suatu Lembah menjadi Puncak dengan menyingkirkan rasa takut & keluar dari diri sendiri. Dalam pekerjaan, caranya adalah dengan lebih banyak memberikan pelayanan kepada orang lain daripada semestinya, dan dalam kehidupan dengan cara menjadi pribadi yang lebih peduli & penuh kasih. Puncak diri adalah kemenangan kita atas rasa takut.

2. Bagaimana cara bertahan lebih lama di Puncak Alasan paling umum yang menyebabkan seseorang cepat turun dari Puncak adalah kesombongan, yang tersamarkan sebagai rasa percaya diri yang berlebihan. Alasan yang paling umum untuk menunda-nunda meningggalkan Lembah adalah rasa takut, yang tersamarkan sebagai rasa nyaman. Kesombongan membuat kita merasa cepat berpuas diri, tidak terlalu bersemangat lagi untuk terus bekerja keras, & berkurangnya rasa ingin tahu, yang dapat menjadi modal bagi kita untuk terus berkembang. Untuk bertahan lebih lama di Puncak, kita harus bersikap rendah hati, peduli & penuh rasa syukur. Berusahalah untuk melakukan lebih banyak hal yang dapat membawa kita ke Puncak. Buatlah segala sesuatu menjadi lebih baik. Lakukan lebih banyak, untuk orang lain. Jangan lupa untuk selalu mencadangkan sumber daya yang kita perlukan untuk melintasi Lembah kita berikutnya. Jika kita dapat menyingkirkan ego kita, kemungkinan kita bisa bertahan lebih lama di Puncak.

3. Bagaimana menambah jumlah Puncak & mengurangi Lembah di kemudian hari. Cara terbaik untuk mencapai Puncak kita berikutnya adalah dengan mengikuti Visi Indrawi kita. Bayangkan diri kita menikmati masa depan yang lebih baik dengan membuat detail yang spesifik & tampak nyata, sehingga kita terdorong untuk melakukan dengan senang hati apa yang membawa kita kesana. Jika kita benar-benar mengikuti Visi Indrawi, kita jadi bersemangat untuk melakukan apa saja untuk mewujudkan visi itu. Visi Indrawi mirip dengan sebuah peta. Ia membantu kita menuju ke tempat yang kita tuju. Dengan ini, seringkali kita mampu melakukan berbagai hal yang sebelumnya tidak kita sadari bahwa kita mampu melakukannya. Kesengsaraan di Lembah dapat menyadarkan kita tentang kenyataan yang kita abaikan. Lembah kita bisa berupa rasa takut, penyakit, kehilangan orang yang kita cintai, kebangkrutan & musibah lainnya. Hindari meyakini bahwa segala sesuatu lebih baik daripada kenyataan sebenarnya saat kita berada di Puncak. Atau lebih buruk dari sebenarnya saat kita berada di Lembah. Jadikan kenyataan sebenarnya sebagai kawan kita dengan belajar menerimanya.

Hidup yang bahagia & kaya itu tak lain adalah mengalami Puncak & Lembah bergantian secara alamiah. Jangan takut jika saat ini kita berada di Lembah. Cari hal-hal positif yang bisa kita pelajari ketika kita berada di Lembah. Lakukan tindakan yang berlawanan, agar kita bisa segera keluar dari lembah. Singkirkan ego yang berlebihan. Pada saat kita berada di Puncak, belajarlah untuk bersikap rendah hati & penuhi hidup kita dengan rasa syukur atas apa yang kita peroleh dengan terus membantu & berbagi dengan orang lain. Untuk menjaga agar kita lebih banyak mempunyai Puncak, buat suatu Visi Indrawi mengenai masa depan yang kita cita-citakan. Lakukan segala hal baik yang memungkinkan kita mencapai apa yang kita cita-citakan.

Tujuan berada di Puncak adalah untuk merayakan kehidupan, & tujuan berada di Lembah adalah untuk belajar mengenai kehidupan.

Toxic Employee

(Cara Ampuh Untuk Mengenali & Menghadapi Para Karyawan Bermasalah!)

Oleh : Anthony Dio Martin

The Best EQ Trainer Indonesia

cetakan pertama tahun 2009

Sebagai atasan apakah Anda pernah memiliki masalah dengan bawahan Anda? Rasanya, hampir semua atasan pernah menghadapi masalah dengan bawahannya. Tapi tidak semua karyawan yang bermasalah dapat digolongkan sebagai seorang Toxic Employee. Biasanya Toxic Employee bukanlah karyawan yang memiliki masalah dengan kompetensinya di pekerjaan, melainkan justru memiliki masalah dalam hal karakter. Bahkan mereka bisa saja menjadi seorang karyawan yang paling awal datang ke kantor, paling rajin & paling setia mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.

Secara umum, suatu perilaku mulai dianggap sebagai toxic apabila ”perilaku, sikap & perkataannya merupakan suatu pola (pattern) serta menjadi kebiasaan (habbit) yang tetap & sangat mengganggu, merusak & mempengaruhi orang-orang disekelilingnya. Jadi ada 4 kriteria umum perilaku seseorang mulai masuk ke area ”toxic” :

  1. Perilaku, sikap maupun perkataannya telah menjadi suatu pola
  2. Sudah menjadi kebiasaan
  3. Mengganggu orang lain & merusak
  4. Berdampak buruk bagi lingkungannya

Bagaimana cara kita mengenali orang-orang yang masuk ke dalam kategori ”toxic employee”?

Biasanya kita bisa mengenali mereka dari bahasa tubuhnya, yaitu :

  1. Raut muka yang tidak mudah tersenyum, kalaupun tersenyum kesannya terpaksa.
  2. Garis mulut pun cenderung melengkung ke bawah
  3. Kalau menatap, kadang pandangannya berkesan menyelidik dengan negatif, seakan-akan mencari ketidaksetujuan
  4. Kalau mereka tersenyum & tertawa, senyum mereka bisa sangat menyakitkan hati karena ditujukan kepada kesalahan / kekeliruan yang dilakukan oleh orang lain. Tapi secara umum mereka jarang sekali tersenyum & tertawa.
  5. Muka mereka kurang bahagia, hal ini sangat terlihat dari pembawaan & sikapnya & juga tercermin dari cara ia berbicara.
  6. Sikapnya bisa agak acuh, meskipun mereka sebenarnya hadir.
  7. Kadang menghindari kontak mata
  8. Tampak tidak antusias & seperti tidak berminat dengan apa yang terjadi, sehingga kadang-kadang tampak tidak konsentrasi & gelisah.
  9. Kehadiran mereka justru membuat perasaan tidak nyaman / terintimidasi pada orang lain di sekitarnya.
  10. Karismanya terasa dari sikapnya yang diam & dingin. Mereka tidak suka basa-basi, inilah terkadang yang membuat mereka agak disegani.
  11. Bagi toxic employee yang ekspresif, mereka suka memberi celetukan yang memiliki makna ganda / bermuatan ”politis”, akibatnya ia jadi bahan tertawaan & terkesan bisa menghidupkan suasana. Tetapi suasana yang dibangun adalah suasana yang kurang nyaman, penuh kecurigaan & tidak tulus.

Dalam buku ini dibahas tuntas 7 kriteria dari si Toxic Employee.

Ciri 1 : Cenderung selalu berpikir negatif (Negaholic) serta pesimis.

Negaholic berarti orang yang ketagihan atau orang yang terus menerus bersikap negatif. Bila ditanya pendapatnya terhadap suatu ide baru, mereka akan selalu bersikap negatif. Mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan kenapa suatu ide atau gagasan progresif itu tidak mungkin dijalankan. Mereka selalu menemukan masalah atau kendala di balik ide-ide cerdas itu. Bisa jadi sewaktu kecil, seorang negaholic, merupakan anak yang sudah terbiasa menantang & melawan orang tuanya karena jarang diperhatikan. Atau bisa juga ia lahir dari orang tua yang negatif & selalu melarang berbagai hal. Dalam pikirannya penuh dengan kata-kata : ”tidak mungkin”, ”tidak bisa,” ”mustahil,” ”percuma,” ”buat apa,” ” tidak ada gunanya, ” tidak usah,”  ”bikin capek saja” dsb.

Dr. Cherie-Scott, seorang pakar di bidang ”Negaholic” mengatakan sikap negatif seseorang di tempat kerja bermula dari problem-problem di masa kecil yang terbawa terus hingga dewasa. Waktu kecil biasanya mereka pernah di tolak, ditinggalkan, tidak dipedulikan, atau tidak mendapatkan penghargaan positif dari lingkungannya. Biasanya masa kanak-kanak mereka bermasalah & tidak berkembang penuh. Itulah yang membuat mereka menjadi pribadi yang tidak pernah puas sampai sekarang.

Tips untuk mengatasi  karyawan yang negaholic :

  1. Belajar memahami sudut pandang karyawan yang negatif itu terlebih dahulu, sebelum mencoba mengubah mereka.
  2. Carilah apa yang mereka khawatirkan & takutkan, lalu usahakan fokus pada solusi bukan menunjuk siapa yang jadi biang keladinya.
  3. Lakukan pembicaraan 4 mata serta berikan coaching.
  4. Management sendiri juga harus bisa mengambil langkah yang strategis terhadap para negaholic yang bisa merusak suasana tim & organisasi. Management harus menciptakan langkah-langkah populis yang bisa mengembalikan kepercayaan karyawan kepada Management, sehingga para negaholic akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Tips bagi karyawan yang negaholic :

  1. Renungkan apa yang jadi pemicu Anda menjadi seorang negaholic, sehingga Anda bisa mengendalikan diri Anda.
  2. Belajarlah bertoleransi dengan keadaan & kelemahan orang lain
  3. Berpikirlah sebelum berbicara. Usahakan mengatakan hal yang negatif pada tempat & situasi yang tepat.
  4. Belajar melihat dari perspektif yang berbeda.
  5. Minta diingatkan oleh rekan Anda jika Anda mulai tampak negatif.
  6. Jauhi para negaholic lainnya yang berada di sekitar Anda
  7. Tetap sibukkan diri Anda & jangan terlalu banyak bersantai di kantor.

Ciri 2 : Menjadi duri dalam daging bagi timnya (Energy Sucker / Energy Vampire)

Sebagai akibat dari adanya seorang Energy Sucker, energi seluruh tim banyak dihabiskan untuk mengurusi mereka daripada memikirkan kemajuan pekerjaan / proyek yang sedang dikerjakan. Pikiran, sikap, & perilaku mereka menyita banyak perhatian & energi dari tim. Pada prinsipnya, saat ia melancarkan serangannya, korbannya akan kehabisan energi sementara ia justru mendapatkan energi yang semakin banyak. Energy Sucker seringkali bermasalah dengan dirinya sendiri, karena mungkin ia merasa ditolak ataupun tidak memperoleh penghargaan yang cukup. Ada beberapa tanda khusus ketika kita bertemu / berinteraksi dengan orang dengan tipe ini. Setelah kita bertemu dengan energi sucker, biasanya kita mengalami keletihan yang luar biasa & mood kita pun menjadi buruk.

Tips untuk menghadapi Energy Sucker / Energy Vampire :

  1. Sikap kita jangan tergantung secara emosional kepada sikap para Energi Sucker / Energy Vampire
  2. Jangan membiarkan apa yang mereka ucapkan masuk ke dalam hati kita.
  3. Jangan meluangkan waktu terlalu lama dengan para Energy Vampire / Energi Sucker.

Tips bagi karyawan yang termasuk Energy Sucker / Energy Vampire :

1. Belajar merawat Emotional Bank Account

Pada prinsipnya, saat kita melakukan kebaikan, kejujuran serta memberi perhatian kepada orang lain, maka kita memberikan penyetoran yang positif kepada Emotional Bank Account kita kepada orang lain. Tetapi saat kita bersikap tidak ramah, tidak peduli, & berbuat curang pada orang lain, maka ini berarti, kita sudah mengambil rekening kita dari orang lain. Beberapa cara untuk menambah Emotional Bank Account : memahami orang lain, menunjukkan perhatian pada orang lain, menjaga komitment kita, memperjelas apa yang menjadi harapan kita pada orang lain, menunjukkan integritas personal, meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.

2. Belajar merawat Engergy Bank Account

Jika pada Emotional Bank Account, hanya bersifat transaksional, dalam Energy Bank Account, energi kita sendiri ikut dikuatkan. Jadi saat kita melakukan sesuatu yang positif & baik kepada orang lain, sebenarnya energi kehidupan kitapun bertambah. Begitu pula sebaliknya, jika kita menghancurkan atau menghina orang lain, maka sebenarnya energi kita juga berkurang. Karena itu, Energy Bank Account kita pun harus menjadi positif, supaya hal-hal yang positif tetap terjadi pada diri kita.

Ciri 3 : Lebih banyak menjadi “masalah” ketimbang memberikan “solusi”

Mereka niasanya bisa menjadi sangat kritis & jeli dalam melihat permasalahan, tetapi mereka hanya terpaku pada masalah. Umumnya mereka senang melemparkan masalah & kemudian meninggalkan tim dalam kondisi binggung. Lalu mereka pergi tanpa meninggalkan solusi apapun. Mereka melihat, menunjukkan serta membesarkan suatu masalah, bukan karena mereka tertarik dengan mencari pemecahan atas masalah itu, tetapi ada sebab lain yang menyebabkannya, misalnya karena mereka senang mendebatkannya. Saat masalah teratasi, hidup mereka tidak tentram & mereka kan mengungkit masalah yang lain lagi. Jadi akar masalah sebenarnya ada pada diri si pencipta masalah. Biasanya masalah-masalah ini berakar dari kondisi dalam diri mereka yang tidak menyenangkan seperti : luka batin, perasaan ditolak, keinginan membalas dendam, merasa diremehkan, pribadi narsistik yang minta perhatian, stres pribadi, & masalah pribadi lainnya. Jadi, masalah-masalah yang mereka tunjukkan hanyalah sarana bagi mereka untuk melampiaskan sesuatu yang tidak menyenangkan yang ada di dalam diri mereka.

Tips untuk menghadapi karyawan yang suka mencari ”masalah”  :

Atasan harus bisa mengarahkan, melakukan pembinaan & menjaga sikap kritis mereka, sehingga mereka bisa menjadi alat monitor bagi perusahaan agar tidak terjerembab ke dalam jurang karena lupa melihat permasalahan yang lebih dalam.

Tips bagi karyawan yang suka mencari ”masalah” :

  1. Berusaha keras bukan hanya mengeluh & komplain, tetapi juga ikut bertanggung jawab untuk mencari solusi atas apa yang dianggap kurang baik.
  2. Belajar untuk fokus pada solusi (bukan masalah), pada kekuatan (bukan kelemahan) & pada apa yang berjalan dengan baik (bukan apa yang berjalan dengan buruk)
  3. Belajar menerapkan prinsip-prinsip yang ada dalam buku QBQ (Question Behind Question), mulailah dengan pertanyaan ”Apa” & ”Bagaimana”, mengandung pertanyaan yang meliputi kata ”saya” & mengambil langkah-langkah yang berpusat pada tindakan.

Ciri 4 : Egosentris (Self Centered)

Dalam berbagai situasi, mereka tampak melontarkan banyak ide cemerlang yang seolah-olah tujuannya untuk kepentingan banyak orang & perusahaan. Tetapi jika di teliti lebih jauh, tujuan sebenarnya adalah untuk kepentingan dirinya sendiri. Kalaupun ia seakan-akan membawa kepentingan orang banyak, itupun karena kepentingan itu berguna buat dirinya sendiri. Kalau merasa tidak ada manfaatnya, maka ia sama sekali tidak mau toleran atau berkorban buat orang banyak.

3 Macam Manusia Egois (The Dark Triad)

1.   Manusia Narcis

Pinsipnya, ”Dunia ada untuk memuja saya.” Manusia narsistik adalah manusia yang hanya berfokus pada dirinya sendiri serta menikmati pujaan dari orang lain kepadanya. Ciri-cirinya : senang menjadi pusat perhatian & senang membangga-bangggakan dirinya secara berlebihan sekali.

2.   Manusia Machiavelis

Prinsipnya : ”Dunia ada sebagai alatku.” Manusia Machiavelis adalah orang yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri & tidak peduli dengan orang lain serta berusaha dengan cara apapun mencapai keinginannya. Mereka tidak selalu mengejar popularitas. Tetapi pada intinya, ia punya ambisi agar agenda pribadinya diutamakan.

3.    Manusia Sociopath

Prinsipnya : ”Dunia ada untuk dipermainkan.” Intinya para sosiopat hanya menjalin hubungan & relasi dengan tujuan ”bermain-main”. Pada dasarnya mereka sendiri enggan membangun hubungan sosial yang bermakna . Umumnya, ia menjadikan interaksinya dengan orang lain sebagai sarana baginya untuk menyiksa & mempermainkan orang lain. Dari situlah ia mendapat kesenangan, dengan membuat sekelilingnya menderita & mereka memiliki kemampuan berempati yang rendah. Ada kecenderungan bahwa manusia semacam ini sejak kecil memang senang menyiksa & agak sadis. Mereka seringkali tidak merasa bersalah setelah melakukan perbuatan yang menyakitkan buat orang lain.

Tips untuk menghadapi karyawan yang Egois :

  1. Harus menentukan pilihan apakah akan meladeni, menghindar atau keluar dari permainan orang-orang seperti ini.
  2. Jangan berharap terlalu banyak dari mereka. Di sisi lain, jangan pula merasa sakit hati kalau kita merasa sudah banyak memberi bagi mereka, tetapi respon yang kita terima dari mereka justru respon yang buruk. Kita harus belajar untuk memahami sekaligus belajar memaafkan mereka.
  3. Kita perlu berusaha agar tidak membiarkan orang-orang semacam ini membuat kita marah, sakit hati serta mempengaruhi kehidupan atau kinerja kita. Intinya, kitalah yang harus mengambil kendali atas pikiran, sikap & tindakan kita, bukannya sebaliknya.

Tips bagi karyawan yang Egois :

  1. Belajar melihat dengan jujur pada diri kita sendiri seberapa peduli kita dengan kepentingan orang lain
  2. Sesekali minta masukan yang jujur dari orang lain, apakah kita termasuk orang yang egois di mata mereka.
  3. Ada baiknya jika kita belajar melakukan Self Monitoring pada diri kita sendiri. Jika kita melihat diri kita mulai berpikir atau bersikap cenderung egois, kita bisa melakukan kritik pada diri kita sendiri, sehingga kita mulai belajar lebih peduli & peka terhadap orang lain.

Ciri 5 : Emosional

Ciri yang penting dari karyawan yang emosional adalah sikap mereka yang sangat sensitif & defensif saat diberikan umpan balik. Kebiasaan mereka pada umumnya adalah :

  1. Seringkali banyak alasan untuk mengcounter umpan balik yang diberikan
  2. Seringkali mereka membelokkan isu sesungguhnya dari umpan balik yang diberikan kepada mereka sehingga mereka semakin jauh dari masalah sebenarnya.

Kritik biasanya dinilai sebagai serangan pada dirinya. Mereka menganggap orang lain hanya iri / sentimen kepada dirinya. Akibatnya, orang-orang ini sulit menerima masukan atau feedback dari orang lain. Mereka juga gampang marah & mudah tersinggung oleh kata-kata / ucapan orang lain. Selain itu orang ini mudah gambek & kalau moodnya turun, dibutuhkan waktu yang sangat lama baginya untuk kembali ke situasi normal. Dia akan terus-menerus membawa kejengkelan & rasa kesalnya kemana-mana. Merekapun tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain yang mereka terima.

Toxit Employee yang emosional seringkali ahli menggunakan emotional blackmail untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya termasuk atasannya juga. Emotional blackmail adalah cara seseorang untuk memanipulasi orang lain, agar orang tersebut melakukan apa yang dikehendaki dengan menggunakan 3 emosi dasar yakni rasa takut, rasa berkewajiban serta rasa bersalah.

Tips untuk menghadapi karyawan yang suka melancarkan Emotional Blackmail :

  1. Perlu ketegasan dari perusahaan, organisasi atau tempat dimana si toxic employee yang melancarkan emotional blackmail tersebut. Katakan dengan tegas kepadanya bahwa sikapnya tidak tepat & tidak disetujui.
  2. Terapkan prinsip SOS (Stop, Observe, & Strategize). Stop : Minta waktu terlebih dahulu untuk mempertimbangkan permintaan si karyawan tersebut. Observe : Melihat segala kemungkinan & pilihan yang tersedia. Strategize : membuat strategi / pilihan sikap yang bisa merupakan win-win bagi kedua belah pihak.
  3. Menggunakan beberapa metode sederhana dari ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming). Misalnya menggunakan teknik Meta Model untuk melucuti beberapa pilihan kata dari si toxic employee yang mengandung kekeliruan. Mis : kata selalu, tidak pernah (generalisasi), perusahaan lain bisa mengijinkan kok, kenapa disini tidak? (delation), hal ini sebenarnya tidak benar karena pada dasarnya tidak semua perusahaan bisa selalu mengijinkan permintaan ijin secara mendadak dari karyawannya.

Ciri 6 : Suka menyebarkan gosip & berita negatif

Dalam kamus Webster, gosip adalah pembicaraan ringan mengenai urusan orang lain. Gosip sering kali terjadi karena komunikasi formal terhambat atau terlalu lambat. Sisi negatifnya, gosip menghabiskan waktu-waktu produktif serta seringkali membuat seseorang atau suatu pihak jadi terluka. Orang yang suka bergosip, mendapat kesenangan ketika ia membicarakan tentang orang lain saat orang yang dibicarakan tidak ada. Selain itu dengan cara bergosip ia juga merasa dirinya dibutuhkan & menjadi pusat perhatian.

Tips untuk menghadapi karyawan yang suka menyebarkan gosip di kantor :

  1. Harus dipahami bahwa gosip adalah perilaku manusia yang universal, jadi sangat tidak mungkin menghindari adanya gosip sama sekali.
  2. Gosip yang berlebihan, apalagi yang sangat negatif dapat mengganggu produktivitas kerja, menurunkan moral kerja, serta menjadikan pribadi-pribadi tertentu menjadi korban yang tidak adil.
  3. Kikislah gosip negatif. Jika ada isu yang muncul harus segera ditanggapi.
  4. Berikan tindakan tegas bagi karyawan yang terbukti menyebarkan gosip negatif. Apabila diperlukan karyawan yang ketahuan menyebarkan gosip dapat dipanggil & diberikan konseling pribadi serta diingatkan bahwa menyebarkan gosip secara negatif sangat tidak ditolerir di perusahaan & dirinya bisa menjadi target evaluasi setiap saat.
  5. Usahakan untuk menbangun kultur yang saling mendukung & kooperatif. Lawanlah para toxic employee yang suka bergosip dengan menunjukkan integritas maupun ketulusan.
  6. Perlu mengantisipasi rumor & gosip dengan segera. Perusahaan harus segera menerjunkan orang untuk menghadapi hal ini.
  7. Menjaga agar karyawan tetap sibuk & diberikan tugas sehingga tidak punya banyak waktu untuk melakukan gosip.

Intinya, untuk mengatasi orang yang melakukan gosip adalah membuat garis yang tegas antara masalah personal dengan masalah kerja. Jika ternyata kitalah yang menjadi subyek yang digosipkan, memang dibutuhkan keberanian untuk mengkonfrontasi orang yang menjadi sumber gosip tersebut. Ajaklah  orang tersebut membicarkan secara terbuka. Mereka mungkin akan mengelak, tetapi jika mereka dikonfrontasi maka kemungkinan di lain waktu mereka akan lebih berhati-hati.

Tips bagi karyawan yang suka bergosip :

Sebelum menyampaikan suatu kabar / hal, uji dengan Saringan Tiga Kali :

  1. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang akan Anda sampaikan itu benar?
  2. Apakah yang Anda katakan itu merupakan sesuatu yang baik?
  3. Apakah yang Anda katakan itu akan berguna bagi orang lain?

Jika apa yang ingin disampaikan itu tidak memenuhi ketiga syarat tersebut maka sebaiknya tidak usah dikatakan / diceritakan kepada orang lain.

8 Tips Penting untuk Menciptakan Gosip yang Positif :

1.   Sebaiknya jangan melakukan gosip lebih dari 1 kali sehari. Hal ini akan membuat kita tetap updated dengan perkembangan kantor, tetapi lebih dari itu kita menjadi tidak produktif.

2.   Dengarkanlah baik-baik tetapi bicaralah sesedikit mungkin saat mendengar suatu gosip.

3.   Berhati-hatilah dengan para toxic employee yang telah di cap ”pengganggu” atau ”tukang sebar berita” oleh management, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mereka.

4.   Kalau Anda berdekatan & terpaksa berbicara dengan penggosip, berhati-hatilah untuk tidak terjebak memberikan pendapat Anda terlalu banyak.

5.   Pertimbangkanlah sumber gosipnya. Cobalah mencari keakuratan informasi terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan / keputusan.

6.   Dalam konteks pekerjaan, jangan mengatakan hal yang buruk tetntang seseorang. Tetaplah berusaha untuk profesional, jangan terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain.

7.   Belajarlah bertanggung jawab jika ada komentar negatif yang sempat Anda keluarkan didengar oleh orang yang bersangkutan, bertanggungjawablah dengan kalimat itu, & berusahalah meminta maaf, janganlah bertindak defensif.

8.   Jika Anda terpaksa dihadapkan pada kondisi bahwa Anda harus berbicara tentang seseorang, jangan hanya membicarakan orangnya tetapi harus juga berbicara pelajaran apa yang bisa kita petik dari orang tersebut & hikmah apa yang dapat kita ambil.

Ciri 7 : Tidak pernah bersyukur.

Saat mendapatkan hal-hal baik, para toxic employee cenderung tidak mampu mengungkapkan rasa syukurnya. Mereka menuntut perusahaan supaya memenuhi apa yang mereka harapkan. Namun saat dipenuhi, mereka hanya bersikap biasa-biasa saja & tidak pernah merasa berterima kasih. Mereka lebih suka mengeluh & mencari sisi negatifnya, daripada melihat sisi positifnya. Saat yang lain mengucapkan terima kasih, maka toxic employee merasa segala yang positif ini sebenarnya sudah ”layak & memang sudah seharusnya” terjadi. Mereka selalu menghadirkan sikap, bahasa tubuh, & kata-kata yang menurunkan semangat serta membuat orang yang telah repot-repot melakukan sesuatu yang positif, justru jadi terdemotivasi.

Hal-hal yang membuat seseorang menjadi penggerutu & tidak bersyukur dalam berbagai kondisi positif :

  1. Membandingkan dengan standart & kondisi yang lebih baik.
  2. Membesar-besarkan kerugian, tetapi lupa dengan keuntungan yang di dapat
  3. Mencurigai suatu kebaikan
  4. Meminimalisir keuntungan yang diterima
  5. Mendistorsi suatu kebaikan sehingga menjadi pembenaran atas gerutuannya.
  6. Menuntut sesuatu yang justru jauh lebih besar

Tips Melatih Kemampuan Bersyukur :

  1. Belajar memfokuskan pikiran pada hal-hal yang baik / bagus, baik besar maupun kecil. Dengan memfokuskan pada kalimat yang positif, maka kita mengarahkan energi kita untuk hal-hal yang lebih menguntungkan.
  2. Menghindari perbandingan dengan orang lain secara negatif. Hal ini harus dihentikan. Selama kita sadar bahwa kita telah berusaha secara maksimal, belajarlah bersyukur atas apa yang boleh kita nikmati. Kita tidak perlu khawatir atau risau dengan apa yang orang lain miliki.
  3. Meluangkan waktu-waktu khusus untuk lebih banyak bersyukur. Dengan cara : 1. mengunjungi kembali saat-saat yang membahagiakan dalam kehidupan kita lebih sering. 2. Menuliskan jurnal rasa bersyukur kita.
  4. Saat menghadapi berbagai keadaan sulit & kehilangan sesuatu maupun kegagalan, disiplinkan diri kita untuk melihat apa yang masih kita miliki serta pembelajaran apa yang kita peroleh melalui kesulitan tersebut.
  5. Mencoba menyebarkan sikap rasa bersukur kepada rekan-rekan di sekitar kita.

Right Process Will Bring Great Result
(7 Right to Become a Great Corporation)

Pengarang : Tjahjadi Lukiman

Harga : 34.800,-
Tebal : 133 Halaman
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Koleksi Pribadi

Di dalam buku ini kita dapat belajar Best Practice yang sudah pernah dilakukan oleh penulis dalam proses “management turn around” di perusahaan yang beliau geluti. Selama 35 tahun karirnya, penulis telah menghabiskan 25 tahun di lingkungan Astra, 8 tahun untuk berwiraswasta, & 5 tahun di group Triputra sebagai CEO Adira Motor hingga saat ini. Dalam buku ini penulis menggunakan pendekatan story telling. Dimana dengan metode ini, pembaca akan lebih mudah mempelajari isi buku ini dari seorang CEO yang sudah berpengalaman dalam membereskan bisnis yang dahulunya sempat berantakan, menjadi bisnis yang menghasilkan profit yang cukup baik sampai sekarang.
Dikisahkan ada seorang CEO yang sudah berhasil melakukan suatu perubahan & diminta untuk memberikan sharing ilmunya kepada rekan-rekannya, sesama CEO dari anak perusahaan lain yang masih belum berhasil. Pendekatan yang digunakan adalah 7 Right. Yaitu: Get the Right People, Do the Right Things, Do Things Right, Do it Right Now, Do at the Right Time, Yes we are Right & Right Growth.

Penulis menganalogikan ketujuh prinsip ini seperti pada saat kita ingin menerbangkan sebuah pesawat. Jika CEO dapat kita analogikan sebagai Pilot Pesawat, maka Get the Right People adalah bagaimana kita bisa mendapatkan penumpang yang tepat. Do the Right Thing adalah bagaimana kita menetapkan tujuan bersama. Do Things Right adalah bagaimana kita dapat membuat rambu-rambu yang harus ditaati oleh seluruh pihak yang terlibat. Do at the Right Time & Do it Right Now adalah bahwa kita harus bisa melakukan pemeliharaan & perbaikan pesawat pada waktu yang tepat & tidak di tunda-tunda. Yes We are Right adalah semua pihak harus sudah merasa puas dengan produk & service yang kita berikan. Baik si pemilik pesawat (owner), kru pesawat (karyawan), & penumpang (konsumen kita). Right Grow artinya kita bisa mengendalikan kecepatan kita dalam menerbangkan pesawat atau untuk implementasi di lapangan adalah bagaimana kita bisa menemukan kapan waktu yang tepat bagi kita untuk mengembangkan bisnis. Berikut uraian singkat mengenai tiap bagian :

1.Get the Right People

Orang yang tepat merupakan modal utama & pertama yang harus dimiliki oleh perusahaan. Lalu yang menjadi pertanyaan, siapa orang yang tepat itu ? Orang yang tepat adalah mereka yang selaras dengan CEO-nya dalam hal hati, pola pikir & integritas yang termasuk prasyarat utama. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai hati & pola pikir yang sama. Semua orang mau menyingkirkan egonya masing-masing & bersatu untuk meraih sebuah tujuan. Hal ini seperti sebuah orkestra dimana CEO berperan sebagai derijennya. Jika semua bisa bermain sesuai dengan irama yang sudah digariskan, maka konser akan menghasilkan suara musik yang enak di dengar.

2.Do the Right Things

Kembali ke analogi pesawat. Setelah semua orang yang tepat berkumpul, barulah kita membahas kemana pesawat akan diterbangkan. Disini kita harus yakin terlebih dahulu dengan bisnis model yang kita pilih. Setelah memastikan bisnis model, visi & misi yang akan dijalani, tugas berikutnya adalah pemimpin harus dapat menentukan dimana orang-orangnya akan duduk di dalam pesawat. Seorang pemimpin harus memiliki strategi, jangan sampai kita menempatkan orang-orang yang tepat di tempat yang salah (Right People in the Wrong Place)

3.Do Things Right

Proses yang benar akan menghasilkan hasil yang benar. (The Toyota Way). Untuk memastikan kita sudah melakukan sesuatu dengan benar, hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah :
a.Buat aturan mainnya terlebih dahulu. Aturan harus jelas & dapat menciptakan rasa aman bagi seluruh karyawan. Aturan disini meliputi Peraturan Perusahaan (PP) & Standard Operating Procedure (SOP).
b.Membuat Reward System untuk para karyawan. Sistem ini meliputi standar gaji, sistem insentif & sistem bonus berdasarkan KPI (Key Performance Indicator).
c.Membentuk pusat pelatihan (training centre) untuk mengembangkan SDM. Training ini akan mengupgrade orang-orang yang berada di dalam tim kita dari segi mind, heart & skill.
d.Membentuk budaya perusahaan (Company Culture) melalui tantangan–tantangan, semangat perbaikan tiada henti , PDCA (Plan, Do, Check, Action), konsistensi, simplifikasi & benchmarking
e.Memanfaatkan jasa penasihat ahli (Utilize Outsourcing Expertise) & Information Technology.

4.Do it Right Now

Seringkali kita diberi nasihat berpikirlah sebelum bertindak. Akibatnya kita kemudian berpikir terus tanpa mengambil tindakan apa-apa. Jika hal tersebut penting, segeralah bertindak. Berstrategi memang mutlak diperlukan, Namun tidak boleh sampai menghambat kita bergerak melakukan action nyata & segera. Dalam setiap proses harus ada eksekusi sebagai transmisi dari perencanaan untuk mencapai sasaran yang diharapkan. Sebaik apapun perencanaan, tapi tanpa adanya eksseskusi, jangan berharap hasil akan datang dengan sendiri menjumpai kita. Perusahaan-perusahaan hebat menciptakan iklim “jangan takut gagal” bagi para karyawannya.

5.Do at the Right Time

Seorang Manager apalagi seorang CEO harus terbiasa memilah-milah suatu permasalahan, apakah itu termasuk dalam kategori yang penting atau sesuatu yang genting untuk dilakukan. Prioritas & tindakan bisa berbeda dalam setiap perusahaan, meskipun tindakan yang diambil sama. Berikut urut-urutan skala prioritas :
a.Penting & genting
b.Penting tetapi tidak genting
c.Tidak penting & genting
d.Tidak penting & tidak genting

6.Yes We are Right

Untuk memastikan proses yang kita lakukan, apakah sudah berjalan dengan benar atau belum, kita perlu mengkonfirmasikannya dengan berbagai pihak, yaitu :
a.Konsumen & karyawan. Mis : dengan survey / kuesioner
b.Supplier. Mis : dengan meeting / koordinasi
c.Pemegang Saham. Mis : melalui review secara berkala.
d.Masyarakat Sekitar & Pemerintah. Mis : melalui meeting & koordinasi.

7.Right Growth

Jika proses yang kita lakukan sudah benar, sekaranglah saatnya untuk berpikir out of the box kembali. Dalam arti kita harus mulai memikirkan pengembangan bisnis baru. Sangat disarankan jika perusahaan belum baik prosesnya jangan terlalu bernafsu untuk memikirkan pengembangan bisnis lain terlebih dahulu, karena biasanya dalam jangka panjang perusahaan tersebut tidak akan bertahan lama. Pengembangan bisnis mutlak harus dipikirkan & dijalankan. Saat ini, siapa yang menguasai banyak bidang, maka ia akan bertahan. Dengan pengembangan bisnis kita juga akan membuka peluang pengembangan karir bagi karyawan yang memiliki prestasi baik tetapi terbentur karirnya karena tidak ada posisi yang masih lowong. Pengembangan bisnis disarankan tetap mengacu pada kompetensi inti yang kita miliki di dalam bisnis yang kita geluti.

Semoga bermanfaat & dapat memberikan inspirasi bagi kita semua dalam menjalankan proses yang baik untuk mencapai hasil yang luar biasa. Selamat mencoba.

Salam Sukses untuk kita semua 

Tales for Change
(Seni Berkisah untuk Pengembangan SDM dan Organisasi)

Oleh : Margeret Parkin (Pakar Seni Berkisah)

Harga : Rp. 39.500

Apakah kita seringkali malas untuk membaca buku? Buku apa yang biasanya menarik untuk dibaca? Biasanya kita mudah tergoda untuk membaca buku cerita. Entah itu berbentuk novel, cerpen, cergam (komik), atau dongeng. Apakah dengan membaca buku cerita kita tidak bisa belajar? Jawabannya tentu saja kita senantiasa bisa belajar dari buku cerita, tetapi tergantung ceritanya & bagaimana kita menarik pelajaran dari cerita tersebut.

Buku Tales for Change menurut saya adalah buku yang menarik untuk dibaca. Baik bagi para trainer, orang tua maupun para pemimpin yang ingin melakukan suatu perubahan dalam unit kerjanya. Dengan membaca buku ini kita dapat belajar tanpa merasa digurui. Buku ini juga cukup sistematis.
Bagian pertama membahas bagaimana menghadapi perubahan. Bagian kedua membantu kita untuk berpikir kreatif. Bagian ketiga bercerita mengenai pemimpin & tim dalam menghadapi perubahan. Bagian keempat membantu kita mengatasi stress karena perubahan & bagian kelima / terakhir membantu kita mengembangkan kecerdasan emosi. Agar tidak mengurangi keasyikan rekan-rekan membaca buku tersebut, saya hanya akan mengambil salah satu cerita yang menurut saya cukup menarik. Berikut kisahnya :

Tikus dalam Labirin

Beberapa tahun yang lalu, seorang profesor dari Universitas Michigan melakukan sejumlah percobaan pada tikus untuk menyelidiki penyebab stres & penyakit syaraf (neurosis). Tikus-tikus dilatih untuk melompat masuk ke salah satu dari 2 pintu yang terdapat dalam labirin. Jika mereka masuk ke pintu sebelah kiri, pintu akan terbuka & mereka akan mendapatkan makanan.
Sementara pintu yang disebelah kanan labirin akan tetap tertutup. Jika mereka berusaha melompat ke pintu itu, yang didapat hanyalah hidung yang memar. Umumnya tikus-tikus itu (sebagai binatang yang cerdas) dengan cepat mengambil pelajaran & melompat ke pintu di sebelah kiri.

Setelah beberapa saat, ketika tikus-tikus itu telah terbiasa dengan aturan ini, profesor memutuskan untuk mengubah aturannya & mengganti pintu-pintu tersebut sehingga pintu di sebelah kiri tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya pintu di sebelah kanan yang akan mendapatkan makanan. Dapat dimaklumi, kalau pada awalnya tikus-tikus itu merasa kesal. Namun dengan segera tikus-tikus itu menyesuaikan diri dengan perubahan & mulai terbiasa untuk melompat masuk ke pintu di sebelah kanan untuk mendapatkan makanan.

Lalu para peneliti memutuskan untuk ”meningkatkan” percobaan & membuat aturan-aturan yang semakin rumit. Selama beberapa hari, ketika tikus-tikus itu dihadapkan pada labirin, mereka harus melompat masuk ke pintu di sebelah kanan untuk beberapa hari agar mendapatkan makanan & beberapa hari kemudian mereka harus melompat ke pintu di sebelah kiri. Pilihan yang diberikan benar-benar acak & tikus-tikus itu tidak pernah tahu, pada hari tersebut, pintu mana yang akan memberi mereka makanan. Perubahan secara acak ini ternyata terlalu berat bagi tikus-tikus. Dengan segera mereka menunjukkan tanda-tanda sangat kebingungan, hingga pada akhirnya mereka sama sekali menolak untuk melompat masuk, & hanya terdiam di labirin.

Pesan :

Terlalu banyak perubahan, apalagi jika secara acak & tanpa perencanaan yang matang, akibatnya sama buruknya dengan tidak ada perubahan sama sekali.

Dalam suatu organisasi yang senantiasa berubah & berkembang kita senantiasa dituntut untuk selalu melakukan perubahan, tetapi bukan asal berubah. Perubahan yang dibuat harus jelas tujuannya & direncanakan dengan matang. Dikaji segala akibat yang ditimbulkan & dipilih mana yang paling baik bagi organisasi. Perubahan yang terlalu cepat & tanpa perencanaan yang matang akan membuat karyawan menjadi apatis & tidak berminat untuk terlibat dalam perubahan.

HYPNOSIS IN SELLING

(Cara Mempengaruhi Emosi & Perilaku Prospek agar Lebih Mudah Percaya & Membeli)

Oleh : Johanes LIM

Harga : Rp. 40.000

Apa yang terbersit di pikiran Anda pertama kali mendengar kata Hipnotis? Di Indonesia, kata ”Hipnotis” ternyata berkonotasi negatif & jahat, serta berkaitan dengan kuasa gelap. Hipnotisme ala Indonesia memang sarat dengan ilmu gaib. Untuk menguasai skill itu orang diajar untuk melatih kekuatan batin, berpuasa, bertapa, merapalkan mantra-mantra berbahasa asing yang entah apa artinya. Hipnotis sebenarnya bukanlah hal gaib.

Orang yang mengaku menjadi korban Hipnotis sebenarnya hanyalah korban persuasi, yang jika boleh disampaikan secara vulgar, hanya mempunyai 2 kemungkinan : korban itu adalah orang yang tamak (greedy) atau bodoh (stupid). Karena jika orang yang menjadi korban ”hipnotis” (penipuan) mau berpikir dengan waras, apakah mungkin ada orang yang tidak bertampang idiot mau menawarkan keuntungan yang demikian besar dengan begitu mudah tanpa usaha keras & memakan waktu yang panjang? Kesimpulannya, si korban adalah korban dari ketamakannya sendiri, & bukan korban hipnotisme.

Jika kemudian Anda menanyakan, Jika bukan hipnotisme, ”Mengapa mereka mengatakan dihipnotis?” Jawabannya sebenarnya sederhana & manusiawi saja. Mohon maaf jika kejadian ini pernah menimpa Anda / keluarga anda. Pertanyaan manakah yang akan Anda ungkapkan kepada keluarga Anda / kepada polisi : ”Ya, saya memang bodoh, tamak, khilaf. Saya terpesona oleh bujuk rayu penjahat itu akan keuntungan instan, sehingga tidak waspada, & akhirnya tertipu!” Atau, Anda berkelit, & mengarang cerita palsu, mengambinghitamkan hipnotisme, agar kebodohan & keserakahan Anda tidak diketahui orang lain, dengan mengatakan, misalnya : ”Waduh, saya dihipnotis! Saya tidak sadar dengan semua yang saya lakukan.!”

Jadi esensi peristiwa seperti diatas bukanlah hipnotisme, melainkan penipuan. memang ada hal yang sama antara hipnotisme & penipuan. Keduanya sama-sama menggunakan teknik persuasi & sugesti. Bedanya terletak pada istilah & tujuan. Tujuan Hipnotisme, positif & bermanfaat (pengobatan, mengatasi kebiasaan buruk / perilaku buruk, membuat kita menjadi orang yang mudah bergaul & menyenangkan, serta memprogram ulang pikiran bawah sadar yang negatif. Sedangkan tujuan penipuan untuk mengambil keuntungan dari orang lain, & orang yang menjadi korban mengalami kerugian.

Lalu apa hubungannya dengan penjualan? Sebenarnya menjual itu gampang, selama kita menemukan konsumen yang mau & mampu membeli, sementara kita mempunyai produk atau jasa yang tepat dari segi manfaat maupun harganya. Dalam Selling Skill diajarkan jika kita menghadapi konsumen yang skeptis, kita perlu meyakinkannya dengan sumber yang bisa dipercaya, entah berupa literatur, kesaksian pemakai lain, demo produk atau kalau perlu berdasarkan pengalaman kita sendiri setelah mencoba produk yang kita jual. Tujuannya agar konsumen percaya & tertarik untuk membeli.

Yang menjadi pertanyaan bagaimana jika kita tidak memiliki sumber yang bisa dipercaya untuk meyakinkan konsumen. Atau lebih parah lagi, konsumen tetap tidak percaya, sekalipun kita telah menunjukkan berbagai sumber yang relevan? Bukankah hal ini sering terjadi di lapangan & membuat para marketing menjadi frustasi?

Ketika Selling Skill biasa tidak lagi bisa meyakinkan konsumen yang skeptis, diperlukan teknik lain yang tidak biasa, yaitu Teknik Hipnosis. Cara ini bertujuan untuk mempengaruhi pikiran konsumen agar lebih mudah percaya & membeli. Teknik persuasi & sugesti hipnosis memang terbukti ampuh untuk mempengaruhi pikiran orang agar berperilaku seperti yang kita sarankan, selama tidak bertentangan dengan basic belief system orang tersebut. Maksudnya, jika manfaat produk atau jasa yang kita tawarkan memang sesuai dengan kebutuhan konsumen, tapi konsumen itu tidak percaya pada proporsal kita, hal itu bisa digantikan dengan teknik hipnosis. Jika konsumen bersikeras tidak menginginkan produk / jasa tersebut, karena memang tidak membutuhkannya atau tidak menyukainya, teknik hipnosis tidak akan membuatnya membeli dari kita. Mengapa ? Karena sebenarnya teknik hipnosis bukanlah magic atau ilmu gaib yang akan merebut kesadaran atau kehendak bebas (free will) orang. Teknik hipnosis adalah teknik persuasi & sugesti ilmiah, yang metodologinya & manfaatnya tidak bertentangan dengan akal sehat. Jadi teknik ini hanya akan efektif jika masalahnya hanya pada ketidakpercayaan konsumen terhadap cara kita menjualnya kepada konsumen. Secara garis besar isi buku ini meliputi :

1. Psikologi Persuasi (Cara Mempengaruhi Pikiran Orang agar Bertindak seperti yang Kita Inginkan). Dalam Bab ini kita diberikan beberapa cara untuk mempengaruhi pikiran orang lain sehingga bersedia mengikuti apa yang kita inginkan,

2. Alasan Orang tidak membeli dari kita & cara menyiasatinya. Pada bagian ini dijelaskan 5 alasan utama orang tidak membeli dari kita & bagaimana cara kita menyiasati kondisi tersebut.

3. Tiga Powerful Buying Motivator. Dengan memahami sifat buying motivator ini seharusnya kita tidak perlu merasa gentar untuk menjual produk / jasa dengan komposisi harga / rate berapa pun, selama kita yakin & bisa meyakinkan konsumen bahwa manfaat yang akan diterima jauh lebih besar daripada nilai uang yang dikeluarkan.

4. Positive Money-Mindedness. Maksud dari istilah ini adalah bahwa sebagai seorang marketing kita harus bisa menghargai nilai uang, sehingga mau berjuang keras untuk mendapatkannya sampai berlimpah. Untuk mencapai hal itu kita harus memiliki tujuan hidup yang jelas, fokus, serta terencana baik tahapannya, sehingga bisa dievaluasi pencapaiannya dalam setiap tahap. Orang seperti ini akan memiliki Self Starter Motivation, yakni dorongan motivasi yang keluar dan berasal dari darinya sendiri. Ia hanya akan memerlukan sedikit motivator eksternal, karena ia berlomba dengan dirinya sendiri.

5. Cara Mendapatkan Apa Saja yang Anda Inginkan. Disini diajarkan bagaimana kita menggunakan teknik hipnosis untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar kita (sub-conscious mind reprogramming)

6.Cara Memiliki Productive Selling Attitude. Dalam bagain ini kita belajar bagaimana caranya untuk tampil secara produktif dan sukses, kita harus mendandani penampilan fisik kita, sebagaimana layaknya orang yang telah produktif & sukses.

7. Beberapa Nilai Dasar Produktivitas & Kesuksesan. Dalam bab ini akan dijabarkan beberapa karakteristik yang perlu dimiliki untuk menjadi produktif & sukses. Antara lain : Kejujuran & Ketulusan, Antusiasme, Kesantunan, Kompetensi, Orientasi kepada Konsumen, & Berorientasi pada keuntungan / laba.

8. Cara Mempengaruhi Pikiran & Perilaku Prospek Secara Tersembunyi. Karena cara kerja pikiran seperti gelombang elektromagnetik yang bisa dipancarkan & diterima, seperti gelombang radio, kita bisa memanfaatkannya untuk mempengaruhi pikiran prospek dari jarak jauh.

9. Tips & Tricks. Hal-hal penting yang harus diketahui agar kita bisa bertransaksi dengan orang lain.

10. Fast Track Selling Technique. Kesusksesan menjual ditentukan pertama-tama oleh ketepatan untuk memilih Target Prospect, yakni calon pembeli yang potensiial untuk membeli istilahnya Able To Buy Prospect. Karena jika konsumen tidak mampu membeli, bagaimanapun hebatnya manfaat produk kita & ketrampilan menjual kita, menjadi tidak ada gunanya. Jadi seharusnya sebelum seorang marketing mengunjungi seorang konsumen, ia semestinya sudah membuat Sales Visit Planning yang telah mengkalkulasinya berbagai kemungkinan & analisis potensi, minat beli, serta ketepatan waktu kunjungan terhadap setiap Target Prospect.

11.Mempraktikkan Hypnosis in Selling Tahap Demi Tahap, Bab ini merupakan rangkuman semua hal yang perlu, mulai dari awal sampai akhir, sehingga pembaca akan memiliki perspektif yang jelas & praktis untuk menerapkan materi ini, & mendapatkan manfaatnya secara optimal.

12. Script untuk Praktik Hypnosis. Sangat bermanfaat bagi Anda yang ingin mempraktikkan Teknik Hipnosis. Anda bisa mulai mempraktikkannya kepada salah seorang sukarelawan yang bersedia Anda Hipnosis & bacakan script yang ada di dalam buku ini dengan Nada Suara Mantap, Datar & Lambat.

13. Self Test Apakah Anda Sales Force yang Produktif. Test ini bisa Anda gunakan untuk menguji sejauh mana kemampuan penjualan Anda sebagai seorang marketing.

Buku ini sangat menarik, mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana & bisa langsung dipraktekkan oleh para pembacanya. Saya berharap jika semua rekan-rekan di marketing dapat mempelajari & menerapkan teknik-teknik yang diajarkan dalam buku ini, maka tidak akan ada lagi keluhan bahwa marketing kita tidak bisa mencapai target. Selamat Membaca & Mempraktikkannya.

THE XO WAY (3 GIANTS 6 LILIPUTS)

(3 Pedoman Emas & 6 Teknik Ampuh)

Oleh : Herry Tjahjono

Harga : Rp. 61.000

Penerbit : Grasindo (2007)

Apakah anda kurang termotivasi akhir-akhir ini? Jika jawabannya ya, Anda harus membaca buku ini. Ditulis dengan bahasa yang sederhana, disertai dengan banyak gambar, cerita & ilustrasi menarik yang memudahkan kita untuk memahami isi buku ini.

Buku yang menarik ini mengangkat tema 3 GIANTS and 6 LILIPUTS yang bermakna kontras-simbolis & analogis. Kenapa mengambil analogi GIANT & LILIPUT? Giant adalah simbol dari segala sesuatu yang serba besar, kuat, kokoh & tak tergoyahkan. Suatu Pedoman Hidup harus merupakan sesuatu yang memiliki sifat-sifat besar, kuat & tak tergoyahkan. Sementara Liliput, mengandung makna sifat-sifat yang serba cepat, tepat, simbol dari teknik yang efektif & efisien yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan. Dan sudah selayaknya sebuah pedoman, haruslah didukung oleh sarana & teknik yang bersifat cepat & tepat. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa tema sentral buku ini adalah 3 pedoman hidup yang besar, kuat & kokoh yang didukung oleh 6 teknik pelaksanaan yang efisien & efektif.

Dalam hidup ini kita sering terjebak untuk lebih mengejar hadiah, uang, ketenaran, jabatan & lain-lain yang sebenarnya lebih merupakan suatu konsekuansi logis yang akan kita terima jika kita telah mencapai apa yang menjadi tujuan kita. Padahal seharusnya kita lebih mengutamakan pencapaian tujuan ketimbang memikirkan iming-iming hadiah, uang & hal-hal lain yang bersifat materiil. Kita tidak perlu selalu menjadi nomor satu, yang penting kita menjadi yang terbaik (dari diri kita masing-masing). Apabila ditarik kesimpulan yang lebih umum dapat dikatakan semua bentuk upaya yang menggiring orang untuk hanya berpikir bagaimana menjadi kaya, serba beruang & berharta, apalagi dengan cara yang cepat & instan, sungguh merupakan ”psikologi ninabobo” yang jika tidak disikapi dengan hati-hati akan menyesatkan orang di rimba raya pencarian yang tak berujung & gelap gulita. Hal ini hanya akan merusak mental. Tetapi ironisnya pendekatan semacam itulah yang sangat laris & laku untuk dijual ke masyarakat yang serba susah, dimana kemiskinan sudah bertebaran di mana-mana.

Ada perbedaan nyata antara goal dengan konsekuensi logis. Goal adalah sesuatu yang wajib dikejar terlebih dahulu, sedangkan konsekuensi logis apapun bentuknya, tidak perlu dikejar karena akan datang dengan sendirinya mengiringi pencapaian goal kita. Orang yang terlalu memprioritaskan konsekuensi logis, biasanya tanpa sadar akan terjebak pada prinsip the ends justify the means, tujuan menghalalkan cara, dan mencari jalan pintas.

Pedoman yang pertama adalah Giant Hope. Harapan adalah sesuatu yang sangat penting & bermanfaat bagi motivasi kita dalam menjalani hidup. Harapan senantiasa mengarah ke depan. Ke hari esok. Secara psikologis, meski tanpa disadari, dengan mengelola harapan, kita akan mengeliminir berbagai hal yang kurang baik & kontraproduktif di masa lalu. Sesungguhnya dengan mengelola harapan, kita mendapatkan efek teraputik bagi permasalahan hidup kita di masa lalu. Harapan yang terkonsolidasikan dengan visi-misi hidup kita (dalam buku ini disebut sebagai GIANT GOAL), & sepanjang harapan itu melekat erat di kepala, hati, & tangan kita maka kesuksesan juga menunggu di depan mata kita.

Teknik yang pertama adalah Teknik Doolitle. Teknik ini di gunakan untuk membuat kita mampu mengubah sifat & sikap kita sesuai dengan apa yang kita diharapkan (self fulfilling prophecy, harapan yang terpenuhi dengan sendirinya). Sejak kecil kita sudah sering menerima pesan & harapan baik dari orang tua maupun lingkungan kita. Anak yang sering menerima pesan & harapan positif & penuh kasih sayang, seperti ”kami mencintai kamu, atau kamu cakap sekali, dst,” akan berkembang menjadi orang yang percaya bahwa dirinya memang cakap & menyenangkan.

Untuk mengembangkan teknik ini kita harus mengembangkan 3 P terhadap diri kita. P yang pertama adalah ”Positive”. Menyangkut sebanyak mungkin sifat baik & menyenangkan. Buatlah daftarnya & berharaplah agar kita memiliki sifat-sifat tersebut. Jika ternyata kita lebih banyak memiliki sifat-sifat negatif, jangan berhenti, tinggalkan ! Teruskan dengan segenap sifat ideal positif yang kita harapkan. P yang kedua adalah ”Progressive” berkaitan dengan sifat, sikap, & perilaku yang serba maju, bertumbuh, meningkat, & dst. Jika kita menyadari bahwa yang kita miliki adalah sifat, sikap yang sebaliknya (kontraproduktif, destruktif), tinggalkan! Teruskan dengan sifat, sikap progresif ideal yang kita harapkan. P yang ketiga adalah ”Persistent” yang berhubungan dengan sifat & sikap yang konsisten & penuh daya tahan. Jika kita menyadari bahwa kita belum memenuhi hal-hal tersebut (serba tidak konsekuen & tidak konsisten), tinggalkan ! Teruskan dengan sifat, sikap persistent ideal yang kita harapkan.

Teknik yang kedua adalah Teknik Baby’s Peak. Teknik ini dilandasi oleh 2 elemen penting, yaitu elemen spiritual & elemen psikologis. Dengan teknik ini kita belajar bagaimana harapan dapat membuat kita demikian mudah menjalani berbagai pengalaman puncak (peak experiences), dalam kondisi terpenuhi & teraktualisasi secara optimal baik secara psikologis maupun spiritual. Pada saat kita masih di dalam kandungan / rahim ibu, kita memiliki posisi tubuh yang sangat spesifik, yang unik, & berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Selepas dari kandungan ibu kita, ”sisa-sisa” dari posisi bayi masih melekat pada diri kita. Sebagai contoh, ketika kita sedang mengalami kesulitan, banyak masalah, & mengalami stress, dsb, tanpa sadar kita akan membuat posisi spesifik tertentu. Ada yang melipat satu tangan sementara tangan lain memegang dahi (sambil mengusap-usap). Ada juga yang bersedekap & memejamkan mata, satu tangan memegang dagu, memegangi kepala dengan 2 tangan & banyak lagi yang lainnya. Biasanya setelah kita melakukan posisi-posisi spesifik tertentu, tanpa sadar kita merasa ringan, teralihkan, santai, nikmat & lega. Itulah sebabnya posisi spesifik tersebut cenderung diulang-ulang tanpa sadar setiap kali kita resah atau banyak mengalami masalah. Posisi ini secara simbolis disebut ”baby position” (posisi bayi). Namun perlu dicatat bahwa posisi spesifik itu tidak sama persis dengan posisi bayi dalam kandungan. Dalam posisi ini kita merasa aman, tenang, lega, nikmat & dalam posisi ini biasanya kita dapat mengeluarkan potensi-potensi terdalam & terdasyat yang kita miliki.

Pedoman yang kedua adalah Giant Paradigm. Disini akan dibahas tentang betapa dahsyatnya sebuah paradigma jika telah dikelola dengan baik. Ada 2 teknik untuk mengelolanya. Teknik yang pertama adalah Teknik Kyue WHY and HOW, yang mampu untuk membuat kita menjadi manusia meaningful, penuh makna & arti. Kata Kyue berasal dari Q/A yang aslinya berarti Question-Answer. Sebuah teknik yang bermuara pada sebuah proses ”dialog” dengan diri sendiri. Dengan mengadakan dialog dengan diri kita sendiri akan melahirkan proses reflektif & kreatif yang luar biasa bagi pembentukan, penguatan & pengembangan sebuah Giant Paradigm. Ada 2 bagian dalam Teknik Kyue ini:

1. Kyue(W) ”WHY” : Dilakukan pada berbagai kegiatan / kejadian yang normal & relatif tidak menimbulkan masalah bagi kita. Mis. Ketika kita makan, minum, tidur, bekerja, dst yang semuanya membutuhkan sebuah refleksi. Pada bagian ini cara yang bertanya yang kita gunakan adalah ”WHY”. Contohnya. ”Kenapa kita harus sarapan? Dari sana coba kembangkan beberapa jawaban sederhana, seperti, ”agar badan saya kuat, segar, agar saya dapat bekerja di kantor, saya sangat menyayangi badan saya sendiri, & karena saya harus tetap sehat, dst.

2. Kyue (H) ”HOW” : Dilakukan pada kejadian atau kegiatan yang membuat kita mengalami berbagai masalah, terutama ganguan psikologis. Pada bagian ini, cara yang dipakai adalah ”How”. Mis. Kita mempunyai masalah kelebihan berat badan. Maka dialog atau pertanyaan yang diajukan adalah : ”Bagaimana ya caranya agar saya bisa langsing dengan santai & nikmat?”

Teknik yang kedua adalah Teknik Tabularasa. Tabularasa itu ibarat kertas kosong, putih bersih, yang siap untuk ditulisi atau dilukisi apa saja. Teknik ini membuat kita memiliki paradigma istimewa, dimana paradigma itu dapat menjadi tuan atas pikiran bawah sadar yang kita miliki serta segenap potensi dahsyat aktualisasi diri lainnya. Ada 4 tahapan kerja dalam Teknik Tabularasa.

1. Tentukan sebuah ”akhir” dalam pikiran kita !

2. Temukan semua cara ”umum & normal” untuk menuju ”akhir” tersebut. Cari yang paling bisa mendukung / mendekati ”akhir” tersebut. Jika menurut kita tidak ada, lupakan. Jika ada, hal itu wajib dilengkapi dengan cara selanjutnya

3. Temukan semua cara ”tidak umum & tidak normal” untuk menuju yang ”akhir” tersebut !

4. Pakailah konsep TOTB (Thinking Outside the Box).

Pedoman ketiga adalah Giant Goal. Pada bagian ini akan dibahas pentingnya perbedaan antara cita-cita biasa dengan sebuah cita-cita Raksasa yang dilandasi mimpi & visi luar biasa, Namun semuanya terukur, bisa dijangkau & dapat dicapai. Untuk menyusun sebuah cita-cita / goal diperlukan beberapa kerangka kerja. Berikut 4 kerangka kerja ciat-cita :

1. Tertulis, positif, optimis (written down, positive, optimistic)

2. Yakin dulu, pasti terjadi (Believing is seeing)

3. Cita-cita sepanjang hidup (Lifetime goal)

4. Cita-cita yang cerdas (SMART Goal).Smart terdiri dari : Specific, Measurable, Attainable, Realistic, & Time-Bound.

Ada 2 teknik dalam Giant Goal. Teknik yang pertama adalah Teknik Landak. Teknik untuk menemukan the best in me & menjadi landak sejati yang istimewa. Seekor landak mengajarkan kepada kita sebuah filosofi yang sangat penting & mendasar, yaitu agar kita jangan terfokus untuk menjadi yang ”terbaik dalam banyak hal” . Tapi yang lebih utama, adanya kesadaran & pemahaman kita untuk menemukan hal terbaik apa yang ada di dalam diri kita. Intinya bagaimana kita menemukan the best in me kita dalam menjalani kehidupan.

Teknik yang kedua adalah Teknik Gulliver. Teknik yang parktis namun ampuh untuk membuat sebuah Giant Goal dalam hidup kita, yang akan merealisasikan mimpi besar kita. Teknik Guliver berisi :

1. Tentukan time frame (jangka waktu) untuk visi tersebut. Pedomannya adalah antara 10 s/d 30 thn ke depan.

2. Transformasikan visi tersebut menjadi sebuah cita-cita raksasa, Giant Goal dengan syarat :

a. Kalimat yang jelas, menantang & mendorong

b. Mengandung parameter-parameter tertentu, terutama waktu

c. Mengandung spesifikasid. Refleksikan & sesuaikan dengan nilai-nilai Anda

3. Buatlah PSP = Personal Strategic Planning (rencana strategis pribadi). Caranya :

a. Membuat diskripsi sejumlah goal kecil Anda sebagai bagian dari Giant Goal tersebut.

b. Membuat kerangka waktu menurun untuk sejumlah goal kecil tersebut.

4. Buatlah PAP = Personal Action Plan (rencana kerja pribadi) untuk goal 1 tahun kedepan.

SELAMAT MENJADI GIANT PERSON. SIAPA PUN ANDA SAAT INI.

Semoga dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua.

JADILAH PEMENANG

(PARA JUARA BERBICARA RAHASIA KEMENANGAN MEREKA)

OLEH: EDIE RAETHER

Harga : Rp. 45.000

Buku yang menarik ini berasal dari berbagai catatan & wawancara dari para para selebriti, agen-agen perubahan, para juara olimpiade, politisi, & CEO sukses, juga orang-orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa. Dalam buku ini kita belajar tentang pola pikir, sikap, & yang terpenting reaksi para juara pada saat menghadapi kekecewaan, kehilangan & kekalahan.

Kita juga akan belajar bagaimana proses pengambilan keputusan & metode pemecahan masalah yang mereka lakukan untuk mencapai pemberdayaan pribadi. Tiap-tiap bab berisi hal-hal penting yang harus kita terapkan jika kita ingin menjadi seorang pemenang. Pada kesempatan ini hanya akan dibahas 7 bab pertama yang terdapat dalam buku ini.

Bab 1 : Pergeseran Pikiran : Ubah Pikiran Anda, Ubah kehidupan Anda

Kita menjadi apa yang kita pikirkan karena pikiran kita akan mendorong & memberi energi fisik & realitas yang kita ciptakan. Pikiran kita merupakan benih realitas yang kita ciptakan. Pikiran memicu kondisi emosi kita. Hidup kita merupakan jaring yang saling berakitan antara pikiran, perasaan & tindakan yang dirajut bersama oleh pilihan pribadi kita. Apa yang pikiran lihat, tubuh percaya. Sekali gambaran dalam pikiran kita terbentuk, kita akan membuatnya terwujud.

Kita bukanlah korban keadaan, selama pilihan & semua perubahan yang berarti datang dari dalam diri kita. Banyak keajaiban merupakan perwujudan dari kesadaran akan pilihan yang kita buat. Keadaan yang kita alami sekarang ini, tidak menentukan kemana kita akan pergi, namun dimana kita akan mulai. Dengan keyakinan positif, tidak hanya pada apa yang mungkin kita raih tetapi juga pada apa yang pantas kita terima, dengan cara ini kita telah menyingkirkan sabotase diri yang sering menghancurkan kesempatan orang untuk menjadi pelaku puncak. Para juara merasa patut menerima kebesaran & kesuksesan mereka, tidak peduli bagaimana & darimana mereka berasal. Fokus merupakan kekuatan. Uap air yang bergejolak lewat turbin jika difokuskan, akan dapat menyalakan listrik & menggerakkan lokomotif. Sinar dari api biasa yang tidak terfokus menjadi tidak bertenaga, sementara sinar laser yang merupakan sinar yang sangat terfokus mampu memotong baja. Kita bisa membuat perubahan dengan lebih berfokus pada keberadaan kita. Para juara tidak hanya menyadari apa yang dapat mereka lakukan, tapi juga apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Mereka punya fokus kedepan yang jelas. Jika kita & bisnis kita tidak terfokus, usaha kita akan menyebar & menjadi tidak berguna.

Pemenang tidak pernah mengenal kata ”penolakan”. Kata ”gagal” juga tidak pernah terucap. Yang ada hanyalah umpan balik, koreksi, peningkatan & pelajaran untuk dipetik. Kemandirian emosi membuat mereka dapat bertahan dari penolakan orang lain tanpa mau berkompromi pada keyakinan & tujuan mereka sendiri. Kemenangan sejati adalah milik orang yang paling cepat bangkit & pulih kembali. Kebangkitan bukan ditentukan oleh stamina fisik, tapi lebih oleh daya tahan emosi & ketahanan psikologis. Ini lebih tentang bagaimana mempertahankan harapan saat kita mengalami kekalahan.

Bab 2 : Dari Kesukssesan ke Makna : Misi yang Memotivasi

Kita tidak dilahirkan ke dunia untuk melihat apa yang bisa kita dapatkan dari dunia, namun untuk melihat apa yang dapat kita sumbangkan pada dunia agar menjadi lebih baik daripada ketika kita mewarisinya. Kita semua ada di bumi ini untuk suatu alasan, entah kita sudah menemukan atau belum apa yang menjadi misi kita dalam hidup. Beberapa hal yang harus kita lakukan menyangkut misi adalah : pertama-tama kita harus menemukan ide yang bisa mendorong kita. Kemudian tulis dengan detail & jelas sebagai suatu kisah yang berkesan & dibuat dengan sepenuh hati. Hal ini akan memberi inspirasi bagi kita untuk mewujudkan impian kita. Setelah itu buatlah rencana detail untuk mewujudkannya. Sebuah rencana yang akan memberi arah, sehingga kita akan selalu tahu ke mana kita melangkah & bagaimana sampai di sana. Kemudian cintailah apa yang kita lakukan. Sesuaikan tujuan kita. Temukan kepercayaan diri, karena dengan kepercayaan diri yang tanpa batas, semuanya menjadi mungkin. Dalam mengejar impian kita, mungkin beberapa kali kita ingin berhenti. Tanpa sesuatu yang begitu kuat yang membuat kita tetap melangkah, mungkin kita akan menyerah. Kita harus terus mengingatkan diri kita sendiri mengapa kita harus bekerja begitu keras untuk mewujudkan impian kita. Buatlah tim kita berisi orang-orang yang percaya pada kita & impian kita. Selain itu kita tetap harus fleksibel & kreatif dalam mencari pemecahan masalah.

Bab 3 : Memvisikan : Kekuatan Sebuah Impian

“Kesulitan dalam mengembangkan ide-ide baru tidak sebesar kesulitan dalam melepaskan diri dari ide lama.” (John Maynard Keynes)

Tujuan memberi fokus, namun impian memberi kekuatan. Impian mampu mengembangkan dunia. Kehidupan adalah serangkaian titik yang harus kita hubungkan. Tugas kita adalah mencari apa yang bisa mendorong kita untuk merangkai titik-titik acak tersebut menjadi momen yang yang sangat penting. Visi yang jelas akan mendorong kesuksesan, namun kejelasan tujuan seringkali menjadi pemicu untuk memfokuskan diri & menyalakan semangat. Kita tidak jatuh ke dalam krisis demi krisis karena gagasan kita gagal, tapi karena kita tidak pernah menerapkannya.

Sekali kita telah mencapai tujuan, kita perlu terus-menerus memperbaharuinya & punya revisi atas visi kita sebelumnya. Maksud dari memiliki tujuan bukanlah mencapainya, namun memberi kita arah & fokus. Strategi atau rencana menginspirasi kita untuk bertindak & menikmati kesenangan.

Ada beberapa sifat, karakteristik pribadi, & kebiasaan umum yang dimiliki pemenang. Mereka semua adalah orang yang bertindak & melakukan apa yang harus dilakukan. Bagi beberapa orang, hal ini merupakan dorogan dari dalam diri, seperti impian pribadi, panggilan atau visi bagi yang lain.

Bab 4 : Penguasaan Pikiran : Optimisme Bukan Pilihan

Semua orang dewasa punya tantangan untuk mengubah pikiran mereka yang seringkali diwarnai dengan penolakan untuk membuang kebiasaan lama. Sayangnya apa yang tidak kita perbaiki sekarang akan diwarisi oleh anak-anak kita. Setiap orang punya tingkat kebahagiaan yang berbeda, yang tidak tergantung dari lingkungan atau keadaan sekitar mereka. Kita diberi pengalaman unik & apa yang kita buat & dengan pengalaman itulah yang akan menentukan tingkat kebahagiaan kita seluruhnya. Kesenangan merupakan pengalaman yang lebih sementara sedangkan kebahagiaan adalah kondisi yang lebih abadi mengenai pengalaman hidup seseorang secara keseluruhan. Kebahagiaan ada di dalam diri masing-masing orang, untuk memperolehnya kita bisa meluangkan waktu untuk berdoa, introspeksi atau merenung sehingga kita terhubung dengan sumber kebahagiaan & kesenangan sejati kita. Optimisme tidak hanya meningkatkan, tetapi juga memaksimalkan semua yang kita miliki dalam situasi yang ada.

Optimisme yang merupakan hasil dari rasa syukur membuat kita lebih menyadari kebaikan, hal positif, & karunia dalam hidup kita. Orang yang optimis adalah orang yang digerakkan oleh kondisi pikiran yang kreatif & produktif yang memberinya peningkatan hidup. Optimisme memberi harapan yang menguatkan tubuh untuk berusaha. Optimisme juga berarti melepaskan apa yang tidak dapat kita kontrol untuk membebaskan lebih banyak energi yang kita miliki & melakukan apa yang dapat kita kontrol serta membuatnya terwujud.

Menyelesaikan tujuan & visi akan lebih mudah bila kita tidak hanya melayani diri sendiri, namun membuat perbedaan pada kehidupan orang lain.Salah satu hal terburuk yang dapat kita lakukan adalah terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain karena, ketika kita melakukannya, kita selalu menjadi yang kedua & kemudian mulai mengidentifikasikan diri dengan kekurangan dalam hidup kita.

Bab 5 : Persepsi : dari Pemecahan Masalah ke Kemungkinan

Dunia baru ada jika kita punya pikiran baru. Perubahan mendalam hanya dapat muncul dari dalam diri. Dengan mempertanyakan pemahaman & prioritas lama, kita menerima hal-hal baru dengan visi baru. Bukan peristiwa yang menentukan hidup kita, tapi apa yang kita lakukan yang menentukan semuanya. Meskipun kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi pada diri kita, kita punya pilihan untuk merespon & menanganinya. Lingkungan kita dapat menciptakan realitas yang tidak sehat, namun tidak pernah dapat mencuri impian kita. ”Tak seorang pun yang dapat membuat kita merasa rendah tanpa seizin kita. ” (Eleanor Roosevelt). Kita harus mempelajari bagaimana cara pikiran kita bekerja sehingga kita dapat melakukan perubahan & kemudian bergerak maju dalam mencapai tujuan yang kita inginkan. Jika kita menentang perubahan, kita akan gagal, jika kita menerima perubahan, kita akan bertahan, & jika kita menciptakan perubahan, kita akan sukses.

Jika kita punya bakat, gunakanlah untuk setiap hal yang mungkin. Jangan menimbunnya. Jangan mendermakannya seperti orang pelit. Keluarkan dengan royal seperti seorang jutawan yang sengaja ingin bangkrut. Orang yang selalu berpikir tentang kemungkinan selalu mampu meraih ketidakmungkinan karena mereka percaya pada solusi. Tolak status Quo & tanamkan cara berpikir mungkin dengan terus memimpikan sesuatu yang sedikit lebih besar. Kesuksesan didasarkan pada disiplin diri, yaitu melakukan apa yang benar-benar tidak ingin kita lakukan ketika tahu itu harus dilakukan. Kesuksesan merupakan penopang semangat, karena sekali kita merasakan manisnya, kita mulai menginginkannya terus-menerus.

Bab 6 : Lahir untuk Menang: Apakah Juara Dibuat atau Dilahirkan ?

”Mengapa orang yang dilahirkan dengan begitu banyak kelebihan, sering kali hanya meraih begitu sedikit, sementara yang dilahirkan dengan begitu sedikit meraih begitu banyak ? jawabannya adalah ”keinginan kuat!” Anda harus punya keinginan besar.” (Lou Holtz)

Nasib bukanlah masalah kesempatan, namun masalah pilihan. Keinginan kuat mengalahkan ketakutan para pemenang & menggerakkan mereka ke arah nasib mereka. Kenyataannya, mereka begitu berfokus pada tujuan & impian sehingga mereka kurang menyadari ketakutan atau konsekuensi, karena ketakutan memang tidak pernah menjadi karakteristik mereka.

Kita lahir dengan serangkaian kemampuan, namun merupakan hak istimewa & tanggung jawab kitalah untuk menemukan & mengembangkannya. Berkompetisilah dengan diri kita sendiri, karena kemenangan adalah semata melakukan sedikit lebih baik. Jangan pernah membiarkan orang lain mengatakan apa yang dapat / tidak dapat kita lakukan. Menantang diri sendiri merupakan cara lain untuk mengembangkan tujuan & visi kita.

Kita tidak akan sukses kecuali jika kita telah gagal beberapa kali. Pemenang adalah orang yang dirangsang oleh kekalahan mereka & kembali ke gelanggang lebih cepat serta bertarung lebih keras dalam ronde berikutnya.

Bab 7 : Kebiasaan Menang : Kepemimpinan & Tekad Kuat

Jika kita tidak ingin kalah lebih banyak & mengalami hal-hal buruk, kita tidak akan pernah menjadi mahir. Pola pikir juara adalah keinginan untuk berani kalah, kalau tidak, siapa yang akan berani mencoba. Dalam perjalanan kita mencapai tujuan, faktor pentingnya adalah seberapa cepat kita bangkit kembali. Bagaimana kita mempersingkat waktu pemulihan kita dari kejatuhan, kemunduran & memar di sepanjang jalan. Cara terbaik adalah dengan mengatasi kejatuhan kita. Halangan terbesar untuk mencapai tujuan kita adalah reaksi yang kita pilih dalam menghadapi 10.000 ide kita yang tidak berhasil. Lee Iacocca (Mantan CEO Chrysler Corporation) mengatakan bahwa untuk sukses kita harus belajar untuk terus melangkah bahkan disaat-saat buruk. Kita harus belajar untuk tidak cepat kecewa, bahkan ketika kita merasa dunia begitu buruk & tidak ada orang yang mau mendukung kita. Tidak ada makan siang gratis, kita harus menghargai nilai kerja keras. Satu hal yang dapat kita kontrol adalah persepsi kita tentang realitas & cara kita memilih untuk melihat peristiwa-peristiwa di luar diri kita. Kesempatan mengetuk pintu kita tanpa henti, kita hanya harus memilih ketukan mana yang ingin kita respon.

Ketika kita berkomitmen dengan tujuan kita, kita memicu pikiran kita sehingga kita berbicara dengan tegas, menggunakan bahasa tegas yang melahirkan tindakan tegas & menciptakan hasil yang kita inginkan. Bakat & kesuksesan menuntut kita untuk bersikap arif dalam mengenali respon kesuksesan pribadi tanpa harus kehilangan diri kita sendiri dalam prosesnya.

Pemenang adalah pemimpin yang mempengaruhi, memberdayakan & menerangi orang lain. Para juara selalu bersimpati & menghormati orang lain, dalam keadaan kalah ataupun menang, karena mereka menghargai diri mereka sendiri terlebih dahulu.